Puisi
Manusia-manusia
Karya : C. Rhoviq Hamna (Alm)
Masih terngiang hari ini pekik manusia berdarah 66
manusia yang punya niat kudus tentang keadilan dan kebenaran
“bukan cuma sekedar slogan kosong”
“dibibir itu pembesar boleh jadi pahlawan”
“dan kami mau wujud dikehidupan ini”,
“di satu topik biasa: Tritura”
biar benteng baja, kau, keorla mau teguhkan
dengan mulut berseragam ngeri
kalau cuma buat perkosa rakyat punya mau
slogan meledak kebungkus kafan palu arit
diujung jalan tadi
fajar oktober 65,
percuma saja,
dan hari ini manusia pembelot ada yang mati sudah
atau ada yang baru digodok dibuminya sendiri
atau dibumi asing
Zamannya sudah lain, he, orba
niat 66 tak bakal luntur sendiri,
atau kelunturan ?
itu boleh jadi
dan hari ini manusia lagi rame tengok balik supersemar
aneh-aneh jadinya
yang masih belum kesepuhan
belum melayang bisa dihitung luar kepala ?
dan yang sudah di sofa empuk,
mau apa lagi ?
dan kalau masih ada yang tega makan daging sahabat sejaket
berlumur darah
kalau masih ada ?
tanya sekarang pada monas salemba
tanya sekarang pada yang berbaret merah, hijau,
berjaket loreng
tanya sekarang pada rakyat dikampung
disurau
digereja
di kuil
tanya sekarang
pada yang pernah nyimpan bumi-tampar, kepala banteng, atau lambang nyiur, bintang, salib, dan seribu lagi
hari ini gambar-gambar itu makin langka
tak bersama manusianya
ada yang bilang, ” lain zaman, lain bendera”
aku adalah aku
kita mesti bilang apa ?
sebab kebenaran manusia itu tak pernah abadi
dulu pernah ia kibarkan bendera itu terlalu melangit
lantas hari ini ia robek,
ia bakar,
ia caci sendiri
lantas ia berikan senyum lega pada siapa saja
sebab aku kesatria
kita rakyat mungil mau apa
yang mungil itu indah ?
hari ini kita membangun
membangun yang nampak dan yang ada didalam dada
manusia zaman esok pasti menagih
Ia pasti menagih
sudah siap hai kau para reformis buat lunasi semua itu ?
kita mesti bisa jawab sekarang
MAKNA KEHIDUPAN
disini aku ingat segalanya
tentang dosa-dosa tempo dulu
tentang makna yang terbengkelaikan
tentang penyesalan yang datang dan pergi
didekat makam Nabi aku cari makna kehidupan itu
aku sirnakan penyesalan yang sia-sia
disini aku bersimpuh
JELAGA
yang menempel dikilatnya cerobong lentera hati dan kehidupan
yang makin mengaburi kebeningan sinar lentera
dikaca itu
hidup ini dambaan kilatnya cerobong sinar dan kaca lentera
AKU KANGEN SEKALI
masih terendapi segala yang memelangi
yang indah mengukir warna langit
aku tertegun dimalam hari habis hujan ini
aku sembahkan doa buat mereka yang pergi dulu
bapa-ku, leluhurku,
para guru dan sahabatku
para panutanku,oh
dan esok hari adalah aku, “aku sendiri”
malam ini aku ada diperbatasan,
antara disini dan di haramain
aku makin gandrungi kehadiranku di depan BaitMu
didepam maqammu, ya Rosul Allah
di Makkah
di Madinah
di Arafah
di Minah
di Muzdalifah
disaban jengkal Tanah suciMu oh Sang Maha Gusti
labbayka Allahumma labbayk, labbayka la syarieka laka labbayk
innal hamda, wani’mata, laka wal mulk, la syariekala laka
begitu agung
begitu kudus
sirnakan cemaran-cemaran dunia dihati ini
aku dambakan segala yang kudus
yang agung disisiMu o sang Maha Gusti
Allahu Akbar
walilla-hilhamd
MASIH ADA MATAHARI ESOK PAGI
menjerit aku malam ini
menjerit aku sejadinya
menjerit hatiku
diriku
nyawaku
menjerit aku saksikan penggundulan hutan
pembakaran hutan
penebangan kayu liar
resapan air dibumi jadi hunian
para “pengembang berduit” makin buncit
dan rahayat “si akar rumput” makin kelelap, tergenang banjir
tertimbun tanah longsor
dilanda musim yang tak berkala lagi
Ya Gusti, Sang Maha Gusti
menjerit aku rasakan kepengapan udara di bumi yang makin memanas
lapisan ozone di lazuardi sana makin terkoyak-koyak
asap dan rumah kaca meracuni segalanya
tak ada bumi tanpa smog, tanpa asap beracun limbah
o bumi
tak ada kesunyian yang membeningkan hati ini
tenang, kudus
kebisingan makin meraja lela
dan makin banyak manusia yang cintai kebisingan
ciptakan buat mahkota-mahkota
setan jalanan
atau cerobong asap industri dan yang melintas diudara-udara
o, Sang Maha Gusti
makin banyak bala kurawa penyakit buat yang punya kehidupan disemesta ini
yang berduit borong “ramuan bermiliar-miliar”
yang “diakar rumput” makin tersesak nafas, lantas mati tanpa “ramuan memadai”
rumah sakit mewah cuma buat mereka yang bisa
di puskesmas makin berdesak rahayat cari, antri obat gratisan
diantara calo-calo “kematian” yang makin bergentayangan
o, Sang Maha Gusti
menjerit aku
menjerit kami
menjerit kita
dan ada bakal datang harinya “menjerit segala isi jagad ini”
tapi masih bakal adakah “matahari esok pagi?”
masih ada, kata manusia-manusia
dan hari itu adalah “pantang ada penyesalan lagi”
kalau pagi ini kita mulai berbenah diri

Leave a Reply