Artikel

 CARA MENGATASI RASA TAKUT

1. Mengapa takut ? Hidup ini penuh resiko. Segala yang menimpaku adalah buah perbuatanku. Ada aksi ada reaksi, ada perbuatan ada akibat.

2. Pengalaman itu mahal harganya. Pengalaman hanya diperoleh kalau aku melakukan sesuatu. Tapi yang kupilih adalah pengalaman yang membuahkan karya positif.

3. Percaya diri bahwa setiap tantangan bisa dipatahkan dengan kepercayaan pada diri sendiri. Tanpa itu, rasa takutku tidak akan musnah sampai kapanpun.

4. Selamat datang kritik dan kecaman. Dengan adanya kritik dan kecaman, jiwaku matang dan aku jadi tak takut dalam menjatuhkan pilihan. Kritik yang datang, selalu membuahkan hasil yang cemerlang.

5. Pujian, oh, pujian. Ia datang dan tak ubahnya wangi bunga di taman. Tapi itu takkan memabukkanku. Kalau aku sampai mabuk, saat pujian tak datang, aku tentu kesepian. 

6. Waktu berlalu, siang diganti malam dan malam kembali digantikan siang. Kalau aku menembus kegelapan, dalam arti kiasan maupun kenyataan, itu sama saja seperti menghadapi terang. Mengapa takut?

7. Otak diatas segala-galanya. Kalau otakku jalan, berarti ide-ide dan inisiatif akan terus mengalir. Jadi hidupku tidak akan mengalami jalan buntu. Agar otakku jalan, hidupku harus diisi dengan ilmu.

8. Aku nomor satu. setiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Agar tak merasa takut, anggaplah diri kita nomor satu. Tapi ini bukan berarti sombong.

9. Kegembiraan itu udara. Rasa takut itu polusi. Agar hidup terus berlangsung, polusi harus enyah.

QUALITY PERFORMANCE

Antecedents dan consequences dari kinerja kualitas. Yang termasuk dalam antecedents kinerja kualitas adalah tujuan kualitas, umpan balik kualitas, insentif kualitas yang mana ketiga hal tersebut merupakan elemen-elemen dari sistem pengendalian manajemen. Sedangkan konsekuensi dari kinerja kualitas adalah kepuasan customer dan kinerja keuangan. Sistem pengendalian manjemen yang berbasis pada TQM mempunyai titik berat yang berbeda dengan sistem pengendalian manajemn tradisional. Diperlukan sistem pengendalian berbasis pada TQM untuk menjawab era globalisasi dimana kepuasan customer menjadi mindset hampir seluruh perusahaan diera globalisasi.

QUO VADIS RUPIAH KITA ?

Pendahuluan 

Forecasting pergerakan masa yang akan datang dari pasar foreign Exchange lebih merupakan seni daripada ilmu. Tentu saja, kita telah mengetahui bahwa tidak ada formula yang ajaib untuk menjamin keberhasilan forecasting. Tetapi dunia nyata membuktikan bahwa forecasting dapat bekerja, ditunjukkan dengan sejumlah besar pelaku pasar yang secara proaktif mengambil resiko pasar dengan tujuan memperoleh gain. Secara sederhana, jika seseorang dapat mengambil pengalaman masa lalu dan secara langsung menerapkannya pada pasar saat ini, forecasting menjadi hal yang layak, meskipun perlu diingat bahwa forecasting bukanlah hal yang sederhana. Kebutuhan terhadap forecasting yang akurat adalah tinggi. Ada dua pendekatan dasar yang digunakan dalam melakukan forecasting yaitu analisis fundamental dan analisis tehnikal. Ada empat cara untuk meramal masa yang akan datang dengan berhasil (Giddy and Dufey) adalah sebagai berikut: (1) Mengembangkan dan menggunakan model forecasting (2) Secara konsisten mengakses informasi yang relevan lebih dulu dari pelaku pasar lain (3) Mengambil keuntungan dari penyimpangan temporer yang kecil (4) Memprediksi intervensi pemerintah dengan sukses. Adapun berdasarkan analisis tehnikal adalah: (1) Charting (2) Trend Analysis.

Analisis Fundamental Vs Analisis Tehnikal

Para pelaku pasar lebih banyak memakai analisis tehnikal ketika mengambil posisi membeli atau menjual di pasar valuta asing, meskipun demikian analisis fundamental tetap dipakai dengan proporsi yang kecil. Hal itu bisa kita lihat ketika Rp kembali menunjukkan penguatannya dalam minggu ke-2 September 2004, para pejabat otoritas moneter kita bersuara kembali dengan optimis mengatakan rupiah akan berada dikisaran rata-rata Rp 8.800/USD selama tahun 2004. Bahkan seakan ingin menjangkau waktu yang lebih panjang lagi, Deputy Gubernur Bank Indonesia mengatakan Rp akan terus menguat pada tahun 2005 dan akan stabil pada 2006 (Jawa Post, 16 September 2004). Kita tidak usah tersenyum sinis apabila pernyataan dari otoritas moneter kita ternyata sering meleset (meski akhirnya berakibat beberapa pernyatannya menjadi tidak berwibawa di pasar). Adalah memang tugas mereka menjaga stabilitas pasar, dan pada sisi lain adalah tugas para analis untuk memberikan analisisnya dengan realitas yang ada namun dengan versi yang berbeda.


Leave a Reply